Budi Santoso: Buruh Ngap-Ngapan, Anggota Dewan Selonjoran

Budi Santoso hanya ingin melihat buruh tertawa, pulang kerja membawa buah tangan meski hanya gorengan. Ia selalu berusaha agar buruh berdaya.

Pria kelahiran 1978  ini lahir dari keluarga buruh dan tumbuh berkutat di lingkungan buruh sekitar Batu Ceper, Kota Tangerang. Begitu panjangnya waktu yang ia habiskan bekerja dan berinteraksi sebagai buruh membuatnya peka dengan kenyataan yang dialami oleh kebanyakan buruh, mulai dari jomplangnya upah yang diterima dibanding beban pekerjaan yang harus diselesaikan (tanpa uang lembur – red.) sampai kesulitan menyisihkan gaji untuk sekedar membelikan buku cerita kepada anak usia sekolah.

Buruh Ngap-Ngapan, anggota Dewan Selonjoran

Laju suara mesin pabrik di Tangerang tidak seiring dengan tingkat kesejahterahan yang diterima oleh masyarakat buruh. Demikian halnya, Kota Tangerang yang dikenal sebagai kota seribu industri, namun masih banyak buruh yang menerima gaji di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

Menurut data BPS Kota Tangerang, jumlah tenaga kerja di sektor industri menempati posisi pertama dengan jumlah 316.875 pekerja atau sekitar 36% dari jumlah angkatan kerja di Kota Tangerang.

Budi memandang bahwa buruh tidak berdaya. Buruh tidak bisa melawan. Buruh harus terus tunduk karena kebutuhan dasar hidup wajib dipenuhi. Jangan juga gara-gara melakukan perlawanan, buruh malah akan dipecat dan menambah deret jumlah pengangguran di kota Tangerang yang kini sudah menembus jumlah 74.981 pengangguran.

Saya melihat adanya kelemahan pada sistem pengawasan oleh anggota dewan. Mereka seolah tutup mata dengan ketidakadilan yang dialami oleh para buruh.

Selesaikan PR ini bersama Kelas Pekerja

Budi Santoso bergegas menyelesaikan PR bangsa yang sudah terlalu lama ini bersama masyarakat kelas pekerja dengan masuk ke organisasi politik – Partai Solidaritas Indonesia. Ia kini terdaftar sebagai bakal caleg PSI untuk Daerah Pemilihan 2 (Kecamatan Batu Ceper, Benda, dan Neglasari).

Partisipasi politiknya sudah dimulai sejak 1999 dimana ia mengambil peran sebagai anggota Panitia Pengawas Pemilu di Kecamatan Benda. Jelas di ingatannya ketika musim kampanye, banyak calon anggota dewan yang mendekati kelas pekerja, namun layar terbuka yang kita lihat bersama ketika sudah terpilih, mereka menghilang. Saatnya perjuangan buruh diwakili oleh buruh sendiri.

Budi menetapkan langkahnya untuk menghentikan praktik tidak manusiawi terhadap buruh. Ia tidak ingin membiarkan buruh menerima gaji di bawah UMR, dipecat semena-mena, takut berorganisasi, dan tentu yang tidak kalah penting, ia menginginkan buruh sejahtera.

Ia ingin memastikan tidak ada lagi sistem kontrak yang tak pernah berujung pengangkatan menjadi karyawan tetap masih banyak dialami oleh teman-teman buruh. Ditambah, sulitnya mendirikan serikat pekerja dan lemahnya pengetahuan soal hukum industri membuat kami para buruh tidak berkutik dan pasrah. Apa lagi banyak juga buruh yg dirumahkan saat menjelang Hari Raya Idul Fitri tanpa mendapat imbalan apa pun.

Transparansi Kinerja Dewan

Ia akan membangun transparansi kinerja anggota Dewan dimana masyarakat dapat memonitor anggota dewannya untuk memastikan bahwa seluruh anggota dewan bekerja sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. Jadi, tidak akan ada lagi anggota dewan yang selonjoran ketika buruh ngap-ngapan berkepanjangan.